Jumat, 14 Maret 2014

Menang Tanpa Merendahkan


Dalam hidup, sebenarnya semua berjalan dengan keseimbangan. Dalam pemahaman Tiongkok, ada yin, ada yang. Dalam keseharian kita pun, selalu ada siang, yang kemudian juga berubah jadi malam. Bahkan, dalam literatur agama, seorang sahabat saya yang beragama Islam menyebutkan adanya ayat yang menerangkan bahwa semua yang ada di alam diciptakan berpasang-pasangan. Ada gelap, ada terang. Ada hidup, ada pula mati. Begitu seterusnya. Kita pun mengenal gagal sebagai pasangan sukses. Ada kalanya pula kita berada di atas, atau tak jarang berada d
i bawah.

Bicara tentang menang dan kalah, saya jadi teringat tentang satu ungkapan Jawa yang sering saya dengar saat kecil dulu, yakni menang tanpa ngasorake. Dalam bahasa Indonesia, arti harfiahnya adalah menang tanpa merendahkan. Sebagaimana sifat anak kecil, dulu saya juga suka berkompetisi dengan kawan sepermainan. Kadang, saat menang, dengan kejahilan khas kanak-kanak, kita sering kali mengejek dan mempermalukan kawan yang kalah. Begitu pula sebaliknya. Kami sendiri menganggap itu semua hanya bagian dari permainan. Ada semacam punishment karena kekalahan. Tetapi tentu, dunia anak-anak sangat berbeda saat kita menginjak usia remaja dan dewasa.

Saat remaja dan dewasa, saya berlatih kungfu. Dalam latihan, acap kali saya harus berlatih tanding dengan berbagai jenis lawan. Saat itu, tak ada lagi sorakan ejekan bagi lawan yang kalah. Saya—dan kami semua—diajarkan untuk menghargai yang kalah. Dengan cara itu, kemenangan ternyata jauh lebih berarti. Karena bukannya bangga berlebih yang didapat, tapi justru rasa mengayomi yang kalah yang lebih membuat kami jadi seperti keluarga besar yang saling mengasihi. Ternyata, rasanya lebih “kaya” dan menentramkan hati.

Rasa tersebut semakin kuat saat saya harus berjuang mengubah nasib di Jakarta. Saat di mana saya justru mengalami lebih banyak ujian kehidupan, banyak “tangan-tangan” yang membantu saya. Sahabat, mentor, dan juga atasan saya, menjadi bagian yang semakin menegaskan, bahwa kemenangan yang tanpa merendahkan akan memberi lebih banyak kebaikan. Di sini, konsep “menang-kalah” melebur jadi satu kekuatan saling menyelaraskan, sehingga saya makin banyak belajar tentang kehidupan.

Dalam berbagai pertandingan—terutama bulutangkis, sebagai hobi saya—seusai pertandingan, dua kubu kompetitor yang sebelumnya sangat seru bertanding, selalu bersalaman. Yang menang men-support yang kalah, sebaliknya yang kalah pun memberi selamat. Dengan kondisi tersebut, pihak yang menang tak akan terjatuh dalam “lubang” kesombongan. Sedangkan yang kalah pun tak akan terpuruk dalam kesedihan mendalam.

Begitulah, bagi saya konsep “menang tanpa merendahkan” punya makna mendalam. Menang tanpa merendahkan, atau kalah tanpa merasa rendah, menjadi sebuah bagian keseimbangan yang menjaga langkah dalam kehidupan. Predikat "menang" dan "kalah", hanya sebutan. Yang jauh lebih penting adalah proses di mana kita berjuang, bekerja, mengeluarkan segenap kekuatan untuk terus maju dan berkarya. Dengan keyakinan itu, setiap karya akan selalu punya makna dan setiap orang akan berada dalam harmonisasi kehidupan. Luar biasa!!!
 Sumber : http://www.andriewongso.com

10 Ciri Orang Bebas Utang

10 Ciri Orang Bebas Utang
Add caption
Bebas utang? Dalam kondisi perekonomian saat ini, menemukan orang yang bebas utang rasanya, kok, sulit, ya?

Namun menurut Len Penzo dari MoneyTalksNews.com, ada, lho, golongan tersebut. Berikut ini adalah cirinya:

  • Sangat detail. Mereka selalu memerhatikan dengan saksama kondisi keuangan mereka, dari jumlah penghasilan sampai ke mana saja pengeluaran dilakukan.
  • Utang = menggadaikan masa depan. Utang merupakan kesenangan instan di masa sekarang yang akan mengorbankan pendapatan masa depan.
  • Pragmatis. Mereka cenderung praktis. Karena serba praktis, mereka memahami nilai. Contohnya, mobil adalah alat untuk membawa dari titik A ke titik B, jadi kenapa harus beli mobil mewah?
  • Mengandalkan diri sendiri. Kebanyakan orang yang bekerja keras demi mempertahankan kehidupan dengan kebebasan keuangan, sangat percaya dengan kemampuan diri sendiri. Untuk itu, mereka berusaha hidup secukupnya, demi menabung uang sebanyak mungkin bagi masa depan.
  • Tidak gila belanja. Banyak orang yang doyan belanja, padahal tidak punya uang. Walau secara fisik tidak separah kecanduan alkohol atau narkoba, tetapi kecanduan belanja membuat orang sulit bebas utang.
  • Sabar. Mereka sabar sehingga bukan pembeli kompulsif. Kalau uang untuk membeli sesuatu tidak cukup, mereka akan menabung lagi dan menunggu.
  • Percaya diri. Mereka menolak diukur berdasarkan apa yang mereka miliki, sehingga mereka juga tak merasa mendapatkan tekanan untuk mengeluarkan uang hanya untuk mengikuti tren. Mereka paham bahwa hidup bukan soal kepemilikan dan pamer kekayaan
  • Mereka sadar kartu kredit adalah pedang bermata dua. Orang yang mampu mengendalikan keuangan tidak khawatir dengan kartu kredit. Mereka bahkan memanfaatkan keunggulan kartu kredit.
  • Percaya dengan tanggung jawab pribadi. Mereka yang bertanggung jawab secara keuangan menolak membuat alasan. Kalau mereka di-PHK, mereka tahu bahwa mereka bertanggung jawab untuk memiliki dana darurat. Kalau tidak, maka mereka tidak menyalahkan siapa-siapa, kecuali diri sendiri.
Tidak materialistis. Terdengar klise, tetapi orang yang bebas utang tahu benar bahwa uang bukan sumber utama kebahagiaan. Mereka cenderung hidup simpel, dan fokus kepada kebahagiaan keluarga ketimbang menumpuk harta dan kekayaan
Sumber : http://www.readersdigest.co.id

Rabu, 12 Maret 2014

NEMBUAT RENCANA KEUANGAN ITU MUDAH!

Memiliki keuangan yang stabil dan mumpuni adalah dambaan setiap orang. Sayangnya, tidak semua orang bisa mewujudkan keinginan ini. Memiliki kondisi keuangan yang baik sebenarnya mudah saja. Rahasianya terletak pada kemauan dan disiplin. Pada dasarnya, merencanakan keuangan itu tergantung pada kebijakan kita dalam mengalokasikan anggaran yang ada. Membuat rincian keuangan dan taat pada “aturan main” yang telah kita tetapkan. Perencanaan keuangan yang baik memiliki beragam manfaat menarik, diantaranya: 1. Semua tagihan wajib seperti cicilan rumah, tagihan kartu kredit, cicilan kendaraan, dll dapat dibayarkan dengan lancar dan tepat waktu. 2. Memungkinkan kita menabung dan mempersiapkan dana darurat dengan baik. Tabungan yang direncanakan dengan baik akan memungkinkan kita mencapai apa yang diinginkan dengan tepat waktu, contoh: liburan setiap tahun. Dana darurat yang dipersiapkan dengan baik bermanfaat untuk menopang keuangan pada kondisi yang tidak diinginkan, misalnya disaat sakit. 3. Mempersiapkan hari tua dengan lebih baik. Dengan merencanakan keuangan dan disiplin dalam menjalankannya, jumlah tabungan yang terkumpul untuk hari tua pun akan lebih banyak dan kita akan lebih siap dalam menjalaninya. Tentunya semua orang mendambakan untuk menjalani hari tua yang nyaman dan bebas dari kekhawatiran finansial. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana caranya membuat anggaran keuangan yang baik? MYWealth akan memandu Anda melalui tips-tips sederhana berikut ini: 1. Sejak pertama kali menerima gaji, jangan tunda-tunda untuk membayarkan semua kewajiban, seperti cicilan rumah dan kendaraan pribadi. 2. Buatlah sebuah akun bank khusus untuk tabungan. Menabung sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali, bahkan tabungan sedikit akan membuat sebuah perubahan besar dalam hidup. Tentukan jumlah tabungan, idealnya sejumlah 5-10% dari gaji bersih. Semakin besar kemampuan untuk menabung tentunya akan semakin baik. 3. Pada saat akan pergi berbelanja keperluan bulanan, catat apa saja yang hendak dibeli. Bedakanlah kebutuhan dan keinginan. 4. Hindari transfer uang ke akun bank berbeda untuk menghindari biaya transfer. 5. Siasati hobi dengan sebuah trik yang dapat menghemat uang. Sebagai contoh, bila kita memiliki hobi membaca buku dan menonton film, kita dapat meminjam buku dari perpustakaan dan meminjam film dari DVD rental. 6. Menyiapkan bekal makan dari rumah adalah ide yang bagus. Selain sehat dan terjamin kebersihannya, kita akan menghemat banyak uang bila dibandingkan dengan makan di rumah makan. 7. Usahakan untuk mengeluarkan uang lebih sedikit daripada apa yang direncanakan. Sebagai contoh, bila ingin membeli pakaian model terbaru, meski telah mengalokasikan uang sebesar Rp 1.00.000,00, kita dapat menyiasati dengan membeli baju tersebut dengan merk lain dan dengan harga yang lebih murah. Membuat anggaran keuangan itu ternyata mudah bukan? Tunggu apalagi, ayo mulai merencanakan keuangan Anda untuk masa depan yang lebih baik

Sabtu, 20 Oktober 2012

Berdamai dengan masa lalu

Jika Anda mengalami trauma pada masa
lalu yang begitu membekas. Trauma ini
lantas Anda gunakan sebagai 'kambing
hitam' atas keterpurukan Anda saat ini.
Anda terus terikat dengannya, meski
itu menyakitkan.

Bila Anda tak bisa lepas dari trauma,
maka coba tanyakanlah hal ini pada diri
Anda:
"Berapa banyak luka lagi yang akan
saya biarkan diderita oleh diri saya
sendiri? Apakah trauma ini pantas
menghancurkan seluruh sisa hidup
saya? Siapa yang berkuasa disini,
diri saya--ataukah trauma?"
Perhatikanlah daun-daun yang mati dan
berguguran dari pohon, ia sebenarnya
memberikan hidup baru pada pohon.
Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun
selalu memperbaharui diri.
Segala sesuatu di alam ini memberikan
jalan kepada kehidupan yang baru dan
membuang yang lama. Satu-satunya yang
menghalangi kita untuk melangkah dari
masa lalu adalah pikiran kita
sendiri.
Beban berat masa lalu, dibawa dari
hari ke hari. Berubah menjadi
ketakutan dan kecemasan, yang
kemudian pada akhirnya akan
menghancurkan hidup Anda sendiri.



Temanku yang teguh hatinya,
ingatlah hanya seorang pemenanglah
yang bisa melihat potensi, sementara
seorang pecundang sibuk mengingat
masa lalu.

Bila kita sibuk menghabiskan waktu
dan energi kita memikirkan masa lalu
dan mengkhawatirkan masa depan, maka
kita tidak memiliki hari ini untuk
disyukuri.

Saat kita merasa sedih dan putus asa,
atau bahkan menderita, coba renungkan
keadaan di sekitar kita. Barangkali
masih banyak yang lebih parah
dibandingkan kita?
Tetaplah tegar dan percaya diri,
berpikir positif dan optimis,
berjuang terus, dan pantang mundur.

Rabu, 17 Oktober 2012

Never Ending Process

Never Ending Process
(Ahmad Baedowi )
Never Ending Process Jika pendidikan dimaknai sebagai sebuah proses, maka jangan terlalu banyak berharap akan ada sebuah akhir. Sebagaimana maxim Arab yang mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah proses pencaharian seumur hidup (min al-mahdi ila al-lahdi), maka common believes dan energi para pendidik seharusnya lebih berorientasi dan mencintai prosesnya. Tetapi karena ada ilmu ukur, maka pendidikan pun menjadi sumir karena tak jarang para pendidik lebih mengejar hasil (result oriented) tinimbang mencintai prosesnya. Tujuan, hakikat dan pemaknaan pendidikan yang serba hasil ini memperlihatkan lemahnya sistem pendidikan yang dibangun, sehingga elan dasar pendidikan kita seakan tak pernah bertemu dengan jiwa atau ruh yang selalu menjadi batang tubuh pendidikan nasional, yaitu “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU No 20/2003 tentang Sisdiknas).
Sangat tidak mungkin rasanya jika pembuktian seluruh agenda pendidikan nasional seperti tertera dari tujuan di atas diselesaikan oleh sebuah mata rantai yang bernama ujian nasional (UN) sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Hampir semua indikator dan tujuan pendidikan nasional di atas adalah sebuah nafas panjang dari sebuah usaha dan proses yang tidak akan pernah berakhir (never ending process), karena hampir semua pilihan kata yang digunakan adalah kata sifat (adjective) yang menuntut usaha secara terus menerus.
Kesadaran terhadap proses pendidikan dan proses belajar-mengajar yang benar harus bersinergi secara positif dengan keyakinan setiap pendidik bahwa untuk menjadikan anak bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tak cukup hanya dengan, misalnya, mengujinya dengan secarik kertas ujian tentang sifat Tuhan. Proses yang benar adalah upaya untuk memastikan bahwa interaksi personal dan inter-personal seorang anak dengan guru, orangtua dan lingkungannya tumbuh dari pengetahuan yang dia peroleh secara benar, membiasakannya secara terus menerus dalam konteks budaya sekolah yang sehat, memperoleh teladan yang tiada henti dari guru, orangtua dan lingkungannya, serta adanya kendali moral yang akan tumbuh secara bersamaan dari dalam dan luar diri mereka sendiri.
Jika para pendidik kita memiliki visi yang sama dalam menempatkan proses sebagai unsur paling penting dari sebuah sistem pendidikan, maka dapat dipastikan para siswa dan orangtua tak akan pernah takut ketika dihadapkan oleh sebuah ujian. Bahkan dalam jangka panjang, proses pendidikan yang benar, aktif dan menyenangkan dapat menumbuhkan sekaligus mengembangkan watak anak untuk menjadi manusia yang fleksibel, terbuka, tegas, toleran, sportif, setia kawan, berani mengambil resiko, dan memiliki Integritas.
Akan sangat sulit rasanya watak dan sifat seperti di atas bisa berkembang jika pikiran dan perasaan siswa, guru dan orangtua selalu diperangkap oleh fakta tentang ujian nasional yang seakan sebagai malaikat pencabut nyawa. Dalam perspektif ilmu pengukuran (measurement) dengan beragam variasi dan fenomenanya, UN sering dinisbahkan kepada hal-hal yang berkaitan dengan kualitas sekolah. Padahal sebagai sebuah metode, UN bisa jadi semata-mata berorientasi untuk melihat akuntabilitas sekolah secara parsial, dan lalai dalam menjaga proses belajar-mengajar yang aktif dan menyenangkan.
tulah sebabnya mengapa kebijakan soal UN tetap saja kontroversial dilihat dari sudut kebutuhan penubuhan visi dan filosofi pendidikan secara luas. Dalam konteks high stakes testing, muasal kesalahan adalah rendahnya kemampuan otoritas pendidikan dalam menerjemahkan filosofi dan visi pendidikan bangsa. Dari sudut filosofi pendidikan, pembicaraan tentang arti dan nilai (meaning and value) pendidikan seakan selalu berakhir dengan adanya model evaluasi semacam UN. Dialektika antara otoritas pendidikan, sekolah, masyarakat dan siswa seharusnya mencerminkan visi dan filosofi pendidikan yang sehat, yang lebih menghargai proses yang benar, aktif dan menyenangkan. Tetapi kebijakan soal UN malah memperpendek visi pendidikan menjadi sekedar tumpukan soal dan membuang lebih banyak waktu untuk melakukan drilling dalam rangka mempersiapkan siswa mereka dalam menghadapi ujian (Jones: 1999).
Fakta dari hasil riset di banyak negara juga membuktikan bahwa masalah yang sering muncul dengan kebijakan semacam UN adalah sulitnya menilai indikator keberhasilan setiap sekolah karena hasil tes mengalami banyak perubahan dari tahun ke tahun, terutama jika dikaitkan dengan capaian prestasi siswa(Linn & Haug, 2002). Dari aspek statistik, pola semacam UN juga cenderung tak dapat memenuhi kepuasan seluruh stakeholder pendidikan mengingat pencatatan tak dapat dijadikan jangkar dalam menilai aspek non-pedagogis yang seharusnya masih menjadi bagian dari tanggungjawab guru dan sekolah terhadap para siswa.
Pendek kata, UN sebenarnya laksana jangkar kapal untuk bersandar, yang dihempaskan kelaut dan membuat kapal tak bisa bergerak maju kecual bergoyang ditempat. Padahal jika jangkar dilepas dan mesin dihidupkan, maka kapal dan seluruh isinya akan tersadar betapa luasnya laut biru dengan gelombang dan ombak yang akan selalu menguji seluruh isi kapal. Menikmati dentum dan deburan ombak sesungguhnya sebuah proses alamiah yang seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh awak kapal. Itulah makna sejati pendidikan sebagai sebuah proses yang tiada akhir.

Referensi : http://kickandy.com/friend/4/37/2350/read/Never-Ending-Process.html

Melesat Menuju Emas

Melesat Menuju Emas
(Veronica Colondam)
Melesat Menuju Emas Beberapa minggu yang lalu, saya terkagum-kagum melihat pertandingan lari bergengsi di gelar di Olimpiade London. Lomba lari jarak 100 meter memang dahsyat. Bayangkan saja jika ada seorang atlit yang mampu menempuh jarak 100 meter dalam 10 detik, berarti dia berlari 10 meter setiap satu detik. Betapa cepatnya, dan begitu banyak energi yang dihabiskan. Belum lagi kalau kita memikirkan bagaimana motivasinya mampu mengalahkan kemalasan badannya. Sebuah proses perjuangan yang luar biasa. Di Olimpiade London 2012 ini kita kemudian tahu bahwa pemenang nomor 100 meter adalah para pelari dari Jamaika untuk kategori putra maupun putri. Jamaika telah mengalahkan seluruh dunia!
Bagi saya yang lebih mencengangkan lagi adalah pelari putri Jamaika, Shelly-Ann Fraser-Pryce. Dia berperawakan sangat mungil untuk ukuran pelari. Tingginya hanya 152cm. Namun Shelly membuktikan dia memiliki akselerasinya yang luar biasa dengan berhasil memenangkan medali emas olympiade yang kedua kalinya di London dalam waktu 10.75 detik. Bayangkan saja, Shelly hanya 1.1 detik lebih lambat dari pelari pria rekan senegaranya, Usain Bolt yang tingginya 196 cm.
Science Sport  memperkirakan Usain dengan tinggi badan hampir 2 meter paling hanya membutuhkan 45-46 langkah mencapai garis finish. Sementara itu, pelari dengan tinggi badan lebih pendek harus melangkah jauh lebih banyak untuk mencapai garis finish.  Huffington Post menulis Shelly setidaknya harus melangkah dua kali lebih banyak dibanding pelari lainya yang lebih tinggi. Lebih banyak langkah berarti Shelly dua kali lebih gesit dalam setiap langkanya. Usaha Shelly dipandang dua kali lebih berat dibanding pelari dengan perawakan lebih tinggi.
Pertanyaannya adalah apa yang membuat Shelly berhasil? Dalam beberapa interview setelah kemenangannya, Shelly mengatakan beberapa hal yang ingin saya kutip di bawah:
Pertama soal berkompetisi seperti yang disampaikannya dalam interview dengan Sport News, "I fear nothing. I love the race and I do it with so much joy". Shelly mengatakan dia sangat menyukai perlombaan, dan ketika dia berlari dia lakukan dengan sukacita.
Dan mengenai kemenangannya, Shelly berkata "Saya merasa final di London berbeda dengan ketika bertanding di Olimpiade Beijing. Waktu itu saya masih muda dan tidak yakin saya bisa menang. Kali ini walaupun saya sedikit nervous, namun saya percaya pada Tuhan. Saya yakin Dia akan menguatkan saya." Kemudian Shelly sendiri mengakui "it was a tough race" tapi kuncinya ada kata-kata ini: "I trust that God will carry me through. I gave it my all. I've got the gold and feels so good."
Hal pertama yang begitu mengagumkan untuk dipelajari di sini adalah Shelly bersandar pada Tuhan dan tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Dia beriman pada Tuhan dan yakin Tuhan akan "carry her through" - membuat dia berhasil. Shelly bisa saja berkata semua keberhasilan ini adalah hasil latihan bertahun-tahun. Namun dia tahu kemampuan manusia yang terbatas tanpa intervensi Ilahi. Pada BBC Shelly mengakui tidak tahu apa yang terjadi ketika dia melesat terdepan, semua terjadi terlalu cepat dan dia hanya bisa bersyukur mendapat medali emas.
Hal kedua yang dikatakan Shelly adalah "I gave it my all". Dia memberikan seluruh kemampuannya pada setiap pertandingan. No reservation, itulah sikapnya tiap kali bertanding. Ketika berbuat, jangan setengah-setengah. Lakukan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin, itulah mantra sukses Shelly.
Dan seperti yang dipetik dari interview dengan Sport News tadi, di atas semuanya Shelly melakukan dengan "joy" atau sukacita. Dengan kata lain, Shelly itu passionate.  Jika kita memiliki tingkat passionate setinggi Shelly, tentunya kita akan memiliki sukacita dalam menjalankan profesi atau melakukan pekerjaan kita. Bukan sekedar bersukacita, kita bahkan akan selalu berusaha sebaik mungkin, dan rela tetap bekerja keras ketika tidak ada yang memperhatikan.Inilah arti dari mencintai pekerjaan kita.
Jika hidup ini diibaratkan sebagai sebuah perlombaan, banyak hikmah yang bisa kita petik dari Shelly. Pertama, bersandarlah pada Tuhan. Tidak cukup mengandalkan kekuatan sendiri. Ini juga berarti bahwa kita percaya akan selalu diberikan yang terbaik olehNya. Kedua, berikan usaha yang terbaik. Hanya berdoa dan mengandalkan Tuhan saja tidak ada gunanya tanpa kerja keras. Kerja keras ini juga termasuk tetap mau bekerja kendati tidak ada perhatian atau reward dari orang lain. Menurut Maslow, pribadi yang sudah sampai pada taraf ini, sudah mampu memenuhi kebutuhannya akan aktualisasi diri.  Karena itu di manapun kita ditempatkan, dalam situasi apapun, kita harus belajar percaya bahwa ini adalah bagian dari ibadah. Ketiga adalah menjalani hidup dengan penuh sukacita. Nikmati setiap momen dalam hidup (baik ataupun buruk).
Dengan mengembangkan sikap dan keyakinan seperti ini, niscaya kita akan mendapatkan "emas" dalam kehidupan kita, yakni kesuksesan dan kebahagiaan. Tunggu apa lagi ?

Minggu, 14 Oktober 2012

Influence, Not Authority

Ahmad Baedowi
Influence, Not Authority
Influence, Not Authority Perdebatan tentang perbedaan mendasar antara kepemimpinan (leadership), manajemen (management) dan administrasi (administration) adalah hal biasa dan lumrah dalam ilmu pendidikan modern. Dimmock (1999: 442), secara tegas dan menarik berusaha membedakan ketiga kata kunci di atas dalam konteks kepemimpinan sekolah. Dalam analisanya, tensi di antara ketiga kata kunci itu terlihat pada aspek yang ditanganinya. Jika titik tekan leadership adalah pada pengalaman dalam mengambil keputusan secara seimbang antara aspek pengembangan kapasitas serta student and school performance, maka manajemen lebih berorientasi pada aspek operasional dan pemeliharaan (fisik dan non-fisik) kondisi sekolah. Sedangkan administrasi adalah fungsi yang melekat baik pada aspek leadership maupun management, karena orientasinya lebih banyak pada hal-hal teknis yang rutin dan sangat dibutuhkan keduanya. Dari sudut pandang pedagogis, jelas sekali perebutan kewenangan antara leadership dan management kerap terjadi dan berlangsung secara terus menerus. Keuntungan leadership adalah dapat mengambil bentuk lain dan keluar dari faktor management yang kerap dilingkupi sebuah proses dan prosedur yang kaku, sehingga leadership bisa secara bebas dinilai berdasarkan pengaruh sosial yang dimilikinya.
Dalam konteks perkembangan dunia pendidikan di tanah air, pengaruh sosial ini menjadi sangat penting untuk dicatat sekaligus diingat. Ada nama-nama, baik secara individual maupun kelembagaan, memiliki pengaruh sosial yang besar dan meninggalkan rekam jejak yang baik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Secara kelembagaan, ada banyak organisasi sosial-keagamaan yang memasukkan bidang pendidikan sebagai bagian dari garis perjuangannya. Sebutlah Muhammadiyah, satu di antara lembaga yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan.
Tetapi jika kita mau jujur, tak akan mungkin lahir sebuah lembaga jika tak ada orang atau tokoh sentralnya. Jika NU memiliki Wahid Hasyim, Persis memiliki Ahmad Hasan, maka Muhammadiyah memiliki K.H. Ahmad Dahlan. Terhadap para tokoh dan individu ini, kerap dinisbatkan sikap dan perilaku bersungguh-sungguh dari mereka untuk memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya.
Kesungguhan, keyakinan dan keikhlasan adalah tiga kata kunci yang relevan untuk diketengahkan dalam konteks kepemimpinan (leadership) pendidikan modern. Jika seorang tokoh mampu secara sungguh-sungguh menunjukkan keteldanan yang tiada henti, mengajarkan keyakinannya secara terbuka dan kritis, serta dibarengi dengan keikhlasan dalam melakoni setiap situasi sesulit dan semudah apapun dengan penuh tawakkal pada Tuhan, maka rekam jejaknya pasti akan menjadi semacam legacy yang secara terus menerus memberikan pencerahan kepada pengikutnya.
Karena itu menjadi penting untuk memberikan definisi leadership dalam konteks pendidikan, agar proses pendidikan menjadi benar dan terarah. Artinya, jika seseorang yang terlibat dalam sebuah proses pendidikan ingin dikatakan berhasil, maka yang harus dinilai adalah pengaruhnya (influence), bukan otoritasnya sebagai pejabat, rektor atau kepala sekolah. Karena itu salah satu indikator leadership yang tangguh adalah adanya pengaruh yang secara sosial maupun individual tetap hidup dalam pikiran dan perilaku banyak orang (Yukl, 2002:3).
Dalam banyak text book tentang karakteristik kepemimpinan di bidang pendidikan, setidaknya leadership harus memiliki tiga ciri. Pertama, memiliki pengaruh yang luas dan besar, baik secara individual maupun sosial. Kedua, memiliki nilai (values) dominan yang menjadi common believes setiap orang atau kelompok yang meminati dan mengikutinya. Sedangkan yang ketiga adalah adanya visi yang jelas dan terarah, sehingga misi dan tujuannya mudah dicerna dan diaplikasikan oleh setiap orang.
Dalam skala dan konteks yang lebih kecil, seorang guru atau dosen dapat dikatakan memiliki pengaruh yang kuat bagi para siswanya, jika mereka juga mampu menebarkan ide dan gagasan yang terus hidup di hati dan pikiran anak didik mereka. Karena itu leadership seorang guru harus terdapat sifat dan sikap yang mampu memberikan inspirasi bagi tumbuhnya kesadaran untuk bertindak, berpikir dan berasa. Pengaruh seorang guru dapat dikatakan baik jika para siswanya memiliki kemampuan untuk menggabungkan kesadaran dan tindakan, sehingga mampu menumbuhkan kesadaran untuk mensinergikan setiap perbedaan.
Hakikatnya guru yang memiliki pengaruh baik dan positif adalah bagian dari hierarki moral kebangsaan. Melalui mereka atau lebih tepatnya melalui kebijaksanaan mereka, masyarakat dituntun agar tetap berada di jalan yang benar. Mulder menyebutkan bahwa guru adalah orang yang memiliki wahyu untuk membagi pewahyuan, membagi kebenaran kepada murid sehingga murid tersebut mempunyai kebijaksanaan (2007:189). Contoh dan perilaku mereka akan dicatat sejarah sebagai sebuah awal dari kebangkitan moralitas kebangsaan yang selalu berusaha untuk terus memperbaiki diri. Paling tidak, kesadaran terhadap pentingnya sebuah pengaruh dalam proses pendidikan dapat menciptakan kondisi dunia pendidikan di tanah air yang lebih baik ke depan.

Referensi : http://kickandy.com/friend/4/37/2278/read/Influence-Not-Authority.html